Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

SINERGI PENA DAN HATI

HomeWelcome to My 2nd Home^-^
Terkadang, ada orang yang menuliskan sesuatu yang tak sesuai dengan bisikan hatinya. Ada juga yang tulisannya terkesan begitu ideal, tapi tak sejalan dengan kepribadiannya sehari-hari.
Dan tak sedikit orang yang tak mampu menggoreskan secara nyata isi hatinya, meski sebenarnya hatinya sebening embun.

Tuhan, aku ingin SINERGI itu. Apa yang kutuliskan itu adalah kata hatiku. Dan apa kata hatiku, itulah yang akan kutuliskan. Dan sinergi keduanya, kuharap memberi ENERGI positif dalam kehidupanku.

BTW, Siapa Mayyadah?
i'm just an amateur one, but hoping to be a great writer. now, i'm still in Cairo, studying in The Oldest university of the world, AL-AZHAR. i spend my free times by writing and writing just like the river flow. Btw, i realized that i have to practise more and more, read more and more, so that my own dream to be a great writer will come true.
so, feel homy here^^

Just Visit My Other Blogs:
The River of My Story (Blogspot)
Tutorial Bayi Kembar (Wordpress)


Blog EntryJul 1, '11 7:25 AM
for everyone

Buku indie perdanaku MATA AIR 100 JUTA, kemaren telah sukses dilaunch di acara besar pesantren Mangkoso. dan responnya di luar dugaan. semua buku yg ada di stan habis terjual:) sementara itu msih banyak teman yg udah pesan plus udah bayar, tp blm dapat bukunya. sekarang ini, buku MA 100 JA sdh memasuki cetakan ke 3 alhamdulillah. Dan Maya berharap ada penerbit yg melirik buku ini, jd maya nggak capek2 lagi ngurusin semuanya.

Buku MATA AIR 100 JUTA berisi 20 kisah nyata penuh inspirasi, dgn bahasa yg nggak ribet, penuh spirit khas maya, dan pastinya anda tidak akan menyesal membeli buku ini

Isi buku ini terdiri dari 3 PART: part 1 "PERSONALLY ME" berisi ttg hal-hal personal yg unik dari pribadi seorang MAYA. seperti dlm cerita "Ayahku Seorg Anre Gurutta" dimana Maya mengisahkan betapa beratnya ia harus dibayang-bayangi nama besar milik ayahnya. part 2 "ALL ABOUT LOVE" berisi kisah cinta yg pastinya nggak lebay, menyentuh, dan bahkan lucu seperti dalam "Cinta Zaman SD". part 3 "MIRROR" berisi ttg hasil refleksi penulis dari berbagai kisah nyata org2 di sekitar penulis. Ada kisah seorang wanita tuna rungu yg berprestasi, ada kisah guru yang tuna netra tapi hapal al-qur'an, hingga kisah seorg ibu yang menanti keajaiban utk bisa menimang buah hati setelah pulang dari Ka'bah.

berikut ini komentar Kak Imazahra, seorang penulis best seller Long Distance Love ttg buku ini: "buku yang KAYA, sarat hikmah, dari berbagai sumber mata air kehidupan karena menceritakan pengalaman seorg perempuan yang bertumbuh di dua negara dengan kultur berbeda..."

pemesanan bisa dilakukan via sms ke nomer: 081354801084 atau 0853 96132796. tulis nama, alamat lgkap, dan jumlah buku yg dipesan. harga Rp.40.000 dan gratis ongkos kirim seluruh indonesia!

Noteberita tentang buku indie ku dimuat disini:http://makassar.tribunnews.com/2011/06/21/alumnus-al-azhar-luncurkan-buku-di-ponpes-ddi-mangkosoJul 1, '11 7:06 AM
for everyone

Blog EntryMay 16, '11 11:35 PM
for everyone
mungkin teman2 bertanya2, kemana aku selama ini. mungkin rumah mp-ku ini udah penuh kecoak dan sarang laba2 saking lamanya tak kubuka.

setelah kepulanganku ke indonesia, aku mengalami masalah dgn koneksi internet. well, aku tetap menulis seperti janjiku, tapi tidak di sini. Entah kenapa, blogku yang di WP ama di BP lbh ringan jika kubuka drpd MP. jadi, kalian bisa lihat lgsung di blogspot dan wordpressku, tulisanku lbh rutin.

trus trang aku merasa bersalah. bahkan ada bbrapa teman yg nanyain via sms: mamanya sikembar kok gak pnh muncul lagi di mp?" dan komen2 lainnya. swear, aku nggak bermaksud memutuskan silaturrahim atau semacamnya.

mungkin lbh baik teman2 add fesbukku saja, di aliasyadi mayyadah. saya lbh byk nongol disana:)
moga catatan pendek ini bisa menjdi jawaban...

Blog EntryJan 18, '11 7:34 AM
for everyone
aku berbaring di samping kedua anakku
malam itu
lalu kutatap dalam-dalam wajah mereka
telinga, mata, hidung, bibir yang kecil, dan jari-jemari
kuciumi dalam-dalam wangi rambut mereka
bersama dengan itu
kudapati seribu kekuatan baru 
untuk melanjutan hidup

terima kasih ya Allah atas kesempatan
dimana Kau jadikan aku seorang ibu

Blog EntryDec 1, '10 12:22 PM
for everyone

Empat tahun di Kairo, terhitung hanya tiga kali kudapati hujan. Itupun berupa gerimis atau rintik yang halus tak terdengar.  Apartemen-apartemen tanpa atap genteng atau seng membuat kedatangan hujan begitu misterius, tak terdengar apapun, tak melihat apapun kecuali jejaknya yang menyisir debu-debu.

Baru sehari aku menikmati bumi permai bukit tempatku dibesarkan. Dan ia seperti tahu apa yang paling kuinginkan. Hujan…ia benar-benar datang, kudengar rintiknya, begitupun deru angin yang bersamanya, dan aroma tanah basah. Aku berdiri di hadapan jendela, terpaku tanpa suara. Kubiarkan hujan menyapu wajah dan sebagian tubuhku, kubiarkan ia menyambutku yang datang kembali ke pelukan pertiwi.

Hujan selalu membuatku teringat akan hal-hal yang istimewa, tak biasa. Hujan kali inipun membuatku berkisah, membagikan slide-slide show milikku untukmu yang selalu setia membaca semua tulisanku hingga tanda titik terakhir.

 

Lelaki Hujan dan Surat Cinta

Hujan telah membawanya ke hadapanku, suatu ketika di masa lampau, saat aku menginjak bangku kelas satu Aliyah. Ia basah kuyup dari atas hingga ujung sepatunya, kecuali sepucuk surat yang sedari tadi ia perjuangkan agar tak dikenai basah. Ia menempuh berkilo-kilo meter dengan motornya, tanpa mantel atau jaket pelindung, dan ia tak peduli akan hujan di sepanjang perjalanannya.  Ia bersekolah di kota yang jauh dan hari itu ia bolos demi menemuiku.

Aku bingung, kenapa ia melakukan itu. Aku tak bertanya, dan ia pun berlalu setelah memberiku surat itu tanpa banyak bicara. Seperti mimpi ia datang ke hadapanku tiba-tiba, dan seperti mimpi pula ia menghilang. Aku sempat melepaskan jaket milikku untuk kuberikan padanya dan membuat wajahnya malu-malu. Aku perempuan. Ia laki-laki. Tapi aku tak pernah memandangnya lebih dari seorang teman, apalagi usianya lebih muda beberapa bulan di bawahku.

Jaketku itu tak pernah kembali, meski ia mengatakan akan mengembalikannya padaku suatu hari nanti. Dan aku tahu apa penyebabnya. Surat itu adalah bagian terpenting dalam hidupnya dan aku sama sekali tak membalasnya.  Andaipun aku membalasnya, aku tak akan bisa membalas perasaannya dengan perasaan yang sama.  Hingga kini, aku tak tahu kabarnya. Tapi hujan telah mengisahkannya kembali.

 

Seorang Ibu dan Anak-anak Penadah Hujan

Jika hujan turun, setiap detiknya terasa begitu berharga, setiap rintiknya adalah nyawa bagi kehidupan semua.  Seorang Ibu akan bergegas membuka pintu belakang rumahnya, tersenyum sumringah dengan sebuah ember di tangannya. Ibu itu kemudian memanggil anak-anaknya untuk mengajarkan mereka betapa berharganya setiap tetes air langit.

Anak-anak berusia SD itu bergantian mengambil ember, baskom, ataupun mangkuk untuk dijadikan penadah hujan. Saat wadah-wadah itu penuh, silih-berganti mereka memindahkannya ke sebuah drum besar yang berdiri di dekat jendela. Jika drum itu penuh, mereka akan tertawa karena tugas mereka telah selesai meski sebagian tubuh mereka telah basah.  Dan saat itulah, mereka akan memilih, menari di bawah hujan atau memilih kembali masuk ke dalam rumah.

Anak-anak penadah hujan itu kini tiada, bersama waktu yang membuat mereka dewasa. Ibu itu adalah ibuku, dan aku bersyukur terpilih menjadi anak penadah hujan di masa kecilku dulu.  Setiap hujan turun, aku selalu rindu akan kenangan di masa kecilku itu.

 

Sampan Tutup Panci dan Hujan

Waktu itu libur sekolah dan usia Maya kecil menginjak sebelas. Hujan turun begitu lama, dari pagi hingga jelang sore. Maya kecil berpikir, pastilah sawah-sawah penduduk di bawah bukit telah berubah menjadi danau. Maya kecil membayangkan, bagaimana serunya jika bermain perahu-perahu di sana.

Maya kecil mengajak dua orang temannya turun dari bukit. Dan benar, sawah telah berubah menjadi danau!

“Aku akan pulang ke rumah, mencari sesuatu sebagai sampannya,” serunya sambil berlari, mendaki bukit kembali meski terengah-engah. Kedua temannya menunggu dan beberapa lama kemudian Maya kecil telah muncul di hadapan mereka dengan sebuah tutup panci besar milik ibunya.

Maya kecil selalu rangking satu, tapi ia tak tahu teori kapal laut dan bagaimana perahu bisa terapung meski menampung banyak orang. Ia turun pelan-pelan, membiarkan tubuhnya setengah tenggelam di “danau”, dan dua temannya yang lain memegang tutup panci itu. Susah-payah ia mengangkat kakinya untuk naik ke atas sampan buatannya. Dan tatkala ia telah hampir sukses berada di atas, tutup panci itu terbalik dan dengan tega menjungkir-balikkan tubuh kecilnya.

“Aaaaaaaa…sampannya gagal!” katanya setengah kesal setengah kecewa. Kedua temannya juga ikut mencoba, memutar otak mencari cara agar acara bersampan-ria mereka sukses.

Di dekat jalan setapak menuju sawah, ada sebuah tembok kecil.  Maya kecil dan kedua temannya sepakat untuk terjun dari tembok kecil itu untuk mendarat di atas tutup panci. Belum sempat mereka terjun, tutup panci itu telah perlahan menjauh, terbawa arus menuju tempat yang lebih rendah. Mereka berteriak, meneriaki tutup panci yang tak akan bisa mendengar. Akhirnya, satu-persatu dari ketiganya melakukan atraksi terjun bebas, meluncur ke danau dan menikmati mandi lumpur. Tawa mereka pecah sesaat sebelum hujan akhirnya berhenti.

 

Kuch-kuch Hota Hai dan Hujan

Kapan terakhir kali kalian menonton film India Kuch-Kuch Hota Hai? Aku telah menontonnya berkali-kali dan membuat airmataku menitik berkali-kali.  Ada dua adegan yang paling kusukai di film itu. Ya, adegan ketika hujan turun.

Adegan hujan pertama, saat Anjali tomboi patah hati karena ternyata Rahul mencintai wanita selain dirinya. Tragisnya, Rahul berlatih mengucapkan “I love you” di hadapannya, sebelum ia benar-benar melafalkan kalimat itu di hadapan Tina.

Adegan hujan kedua, saat Anjali feminim berteduh bersama Rahul di sebuah gazebo. Musik imajinasi mengalir dan keduanya kemudian hanyut pada perasaan masing-masing. Aihhh, romantisnyeeee haha.

Lalu, apa hubungannya dengan adegan hujan milikku?

Sebenarnya…Shahrukh Khan ada hubungan darah denganku hahaha. Kidding!

Hmm, aku lebih suka adegan hujan pertama film itu. Dimana Anjali menyembunyikan airmata patah hatinya di balik hujan. Ia menangis  dengan perasaannya yang hancur, tapi tak seorang pun tahu hal itu. Siapapun yang melihatnya akan mengira, jika basah di mata dan pipinya adalah bagian dari basah hujan, bukan airmata.

Aku juga ingin sekali mempraktikkan bagian itu. Jika aku sedih, aku ingin hujan datang memelukku, lalu menyembunyikan airmataku. Jika hatiku perih, aku ingin menangis sepuasnya di bawah hujan agar tak seorang pun tahu bagaimana perasaanku.  Tapi hujan datang ke bumi bukan atas kehendakku, tapi kehendakNya. Makanya, aku akan senang sekali jika hujan benar-benar turun saat aku sedang tidak bahagia. Aku merasa menjadi kekasih hujan yang setia.

Aku seringkali terlalu menghayati peranku sebagai aktris papan atas haha. Berakting bahagia, tersenyum lebar, atau tertawa ceria di hadapan orang-orang. Ini adalah dunia nyata, dan terkadang aku menyulapnya menjadi sebuah pentas drama. Aku memasang wajah yang bukan wajahku, aku tak pernah berterus-terang seburuk apapun jurang yang kuhadapi.  Aku memeluk orang-orang yang sedang bersedih, membiarkan mereka menangis di bahuku, seakan-akan aku adalah orang pemberi kebahagiaan di dunia ini.

Tahukah kalian, jika hujan turun untuk memberi kehidupan? Ia akan membagi nafas baru,  menyapu bersih debu-debu yang menempeli hatimu, dan setelah hujan berhenti…hatimu akan terlahir kembali.

Jadi, nikmati hujan ini, dan mari kita merekam ulang kisah masing-masing. Luv U all!

 

 

 

 

 

 




Blog EntryOct 14, '10 5:34 PM
for everyone

Terik matahari begitu membakar, udara pengap membuat siapapun sulit bernafas. Sesekali angin panas menerbangkan debu-debu, dahaga pun datang menyerbu kerongkonganku. Aku meninggalkan rumah dengan semangat menyala-nyala seperti matahari di atas kepalaku. Hari ini, aku akan bertemu seseorang, aku harus menemuinya!

 Dadaku tak berhenti berdesir hingga aku benar-benar duduk di hadapannya, menangkap kilau hamasahnya yang sanggup mengalirkan ribuan volt listrik dalam aliran darahku. Mataku nyaris tak berkedip, seperti melihat sosok malaikat yang tak pernah kulihat sebelumnya.

 Dia hanyalah sosok manusia biasa...Namun di mataku, ia melampaui kekuatan pena itu sendiri. Dan aku tak percaya, ia berdiri di hadapanku sekarang!

 Orang-orang mengenalnya dengan nama: Helvy Tiana Rosa.

Selama ini, aku hanya membaca sosoknya melalui aksara dan pustaka. Aku telah jatuh cinta padanya sejak duduk di bangku Tsanawiyah, membayangkan betapa ia lebih hebat dari tokoh yang ditulisnya, lebih cemerlang dari cerita fiksi ciptaannya. Aku sering berpikir waktu itu, kenapa buku-buku pelajaran Bahasa Indonesiaku tak pernah menampilkan namanya? Kenapa semua karangan dan cerita yang ada didominasi oleh penulis lelaki? Bukankah kita punya seorang Helvy Tiana Rosa?

 Dan hari ini, aku tak salah mengira, ia memang pantas menjadi seorang perempuan inspiratif sepanjang masa. Ia benar-benar tak membuatku kecewa. Waktu seakan berhenti seketika. Aku pun duduk khidmat, menangkap sejuta kata di balik satu kata miliknya, menikmati lagu kisahnya yang jujur dan memukau.

 Ia bercerita, jika dulu ia hanyalah seorang anak dari keluarga miskin, tinggal di tepi rel kereta api dengan seorang ibu penjaja seprai. Setiap kali kereta lewat, rumah tripleksnya berderak-derak dan jemurannya satu persatu melayang. Tapi mimpi yang besar telah mengantarkannya menjadi orang besar pula.

 Bunda Helvy sama sekali tak pernah tahu, jika cerita masa kecilnya itu telah aku baca lebih dari sekali dan membakar semangatku berkali-kali.

 Kisah itu membuatku bercermin pada diri sendiri. Aku juga bukan siapa-siapa, aku bahkan dibesarkan di sebuah bukit jauh dari kota. Sebuah bukit yang dulunya membuatku menjadi seorang anak pengangkut air. Dan impian seorang Helvy kecil telah meledakkan impianku juga.

 Ia juga pernah bercerita, bagaimana seorang Helvy belia menerobos kerumunan manusia untuk menemui penulis pujaannya, Putu Wijaya. Dan Putu Wijaya memberinya sebuah pesan: Helvy, menulis itu adalah berjuang! Kalimat itu ia simpan sebagai mantra ajaib yang menggerakkan pena kecil miliknya hingga setenar sekarang, bahkan menandingi kemilau nama Putu Wijaya itu sendiri.

 Hari ini, aku tak perlu bersusah-payah menembus lautan manusia untuk menemui penulis pujaanku. Tanganku bergetar, sendi-sendiku dijalari oleh dingin saat kesempatan itu akhirnya datang padaku. Aku hanya butuh sedikit kekuatan untuk mengucapkan sebuah kalimat cinta. Aku mengacungkan tangan dan waktu memberiku sedikit menit untuk mengutarakan isi hatiku:

 “Bunda, perkenalkan, nama saya Mayyadah. Sebenarnya, saya gak mau bertanya apa-apa tentang kepenulisan. Saya hanya ingin mengucakan terima kasih banyak…”

 Nafasku naik-turun, rasanya airmataku ingin meluap sungai. Tuhan, sepuluh tahun aku menanti untuk mengatakan ini. Aku menahan tangis sebisanya meski leherku seperti tercekik, nada suaraku bergetar:

 “Bunda telah memberiku inspirasi selama ini, menemani perjalanan menulisku, dan memberiku semangat untuk mengasah bakat menulisku. Sekali lagi, terima kasih Bunda!”

 Aku merunduk, antara malu dan kikuk. Sebenarnya, sangat banyak yang ingin kukatakan. Namun tak selamanya cinta itu membutuhkan pengungkapan kata-kata, bukan? Saat aku mengangkat muka, kulihat ia tersenyum seperti senyuman seorang Ibu pada anaknya. Ia berkata padaku, sesuatu yang membuatku larut dalam haru:

 “Maya, jika aku telah memberi inspirasi untukmu, maka hari ini, engkau telah menjadi inspirasi bagiku…”

 Bunda, tahukah kamu, seketika itu jua aku berjanji: aku tak akan pernah berhenti untuk membuat penaku menari…insya Allah!

 Ya Allah, limpahkanlah cinta kepada orang-orang yang menebarkan cintaMu.

 Terima kasih Tuhan atas hari ini, dan hari-hari selanjutnya. Jika Engkau memberiku waktu sepuluh tahun untuk bertemu dengan seorang Helvy Tiana Rosa,  apakah aku akan menanti sepuluh tahun lagi untuk bisa menjadi penulis sepertinya?

 Hanya waktu yang kelak menjawabJ

 

 

 

 

 

 

 










 



Noteteman-teman, ikutan lomba menulis flash fiction ya klik: http://pestablogger.com/?p=2108Oct 7, '10 8:07 AM
for everyone


Noteteman-teman, ikutan antologi yuk bareng ka imazahra! klik linknya yaaa:http://www.facebook.com/note.php?note_id=437730677580&comments&il=0&ref=notif¬if_t=note_replyOct 4, '10 6:02 AM
for everyone

Blog EntryOct 3, '10 5:47 PM
for everyone

Dalam sebuah cuplikan kisah Romeo and Juliet, Juliet berkata:

“What’s in a name, that which we call a rose by any other name would smell as sweet?”

Apalah arti sebuah nama

jika setangkai mawar pun akan tetap semerbak mewangi

Meski kita memanggilnya dengan nama lain?

 

Andai aku hidup di zaman Shakespeare, tentu akan  kukatakan padanya, bahwa aku sangat keberatan dengan kalimat buatannya yang terkenal itu. Bagiku, sebuah nama memiliki arti di baliknya, termasuk namaku. Aku selalu merasa bahwa namaku memiliki peran membuat hidupku menjadi lebih berarti. Aku pikir, nama MAYYADAH bukanlah sebuah kebetulan belaka. Beberapa momen, peristiwa penting, dan keajaiban kecil hidupku terjadi karena nama itu.

 

Sewaktu aku pertama kali menghirup oksigen di luar rahim Ibu, Ayahku sama sekali tak menyiapkan satupun nama untukku. Sungguh malang, karena konon Ayahku sangat berharap dan yakin jika anak pertamanya adalah seorang laki-laki sehingga Ayahku hanya menyiapkan sebuah nama laki-laki.

 

Aku lahir di lingkungan pesantren, di sebuah rumah panggung yang juga berfungsi ganda sebagai asrama santri. Seorang Syekh, teman Ayah, yang ikut pertukaran dosen Indonesia-Mesir dan ditempatkan di pesantren itu, juga hadir menyambut kelahiranku. Saat ia menggendongku, mata Syekh itu berbinar-binar melihat hentakan-hentakan kecil tangan dan kakiku yang merah, ia pun berkata:

 

“Izinkan aku memberi nama anak ini Mayyadah!”

 

Sungguh, aku tak pernah membayangkan, jika kelak setelah aku dewasa, kakiku akan menginjak negeri asal namaku itu. Negeri Piramida, Mesir.

 

Ya, nama Mayyadah sendiri pertama kali menjadi sebuah trending topic yang dipopulerkan oleh seorang penyanyi Mesir fenomenal, Mayyadah el-Hannawy.

 

Aku juga tak sempat bertanya pada Syekh itu, kenapa ia memberiku nama itu (maklum, aku kan masih bayi waktu itu hhehe). Mungkinkah karena ia fans fanatik penyanyi Mayyadah el-Hannawy, atau mungkinkah ia berharap aku akan mencium udara Mesir suatu hari nantinya? Wallahu A’lam. Pastinya, Ayahku juga tak keberatan jika aku diberi nama itu.

 

Tahukah kalian, kalau secara bahasa, Mayyadah artinya yang bergoyang-goyang. Hahah, lucu sekali, bukan? Mendengar kata “bergoyang” selalu mengingatkan kita pada lenggok seorang penari. Mungkin kalau diperhalus, bisa diartikan dengan “lincah” atau gemulai.

 

Jelasnya, sebelum aku tahu arti namaku sendiri, aku seakan sudah merasakan efeknya yang luar biasa dalam tingkah lakuku sehari-hari. Sejak SD, aku dikenal sebagai anak yang lincah dan cekatan, aku bahkan ikut lomba menari meski Ayahku melarangku habis-habisan. Di tingkat I’dadiyah (pra-SMP), aku bahkan sudah menjadi pemeran utama sebuah pementasan drama hingga aku Aliyah. Dan yang paling menggelikan lagi, aku bahkan pernah menjadi pimpinan cheerleaders Fordinda-Wihdah di acara Asean Culture, padahal aku masih berstatus new comer ingusan di Kairo. Hahah, jauh-jauh ke Mesir, ternyata buat jadi cheerleader yaaa!

 

Karena namaku begitu asing di telinga orang-orang Indonesia mayoritas, tak jarang aku sedikit dongkol mendengar namaku dipanggil. Ada yang memanggil dengan nama Muayyadah-lah (plus U), ada pula yang memanggilku Mawaddah! Benar-benar kesalahan ejaan yang fatal!

 

Di atas kertas pun tak kalah menggenaskannya. Mulai dari piagam, absensi, hingga lembar administrasi lainnya, yang memajang namaku dengan ejaan tak disempurnakan. Ada yang kekurangan vitamin Y (Mayadah), atau kelebihan vitamin D (Mayyaddah). Grrrr.

 

Sayangnya, aku tak bisa melaporkan semua itu ke kantor polisi (Lho? Kok?). Bagaimanapun, itu tidak bisa dikategorikan sebagai kriminal tingkat pencemaran nama baik, karena mau dibilang “baik” juga bukan. Yah, setidaknya aku berkata demikian setelah membaca kitab Tarbiyatul Awlad (Edukasi Buat Sang Buah Hati) sewaktu Aliyah dulu. Silakan dicek sendiri, kalau tidak salah, Bab tentang pemberian nama untuk anak, disitu akan dijelaskan nama-nama yang disunnahkan dan nama-nama yang dimakruhkan.

 

Tragisnya, namaku masuk blacklist alias daftar nama yang dimakruhkan!

Mungkin dikhawatirkan nama itu akan membuat anak menjadi seorang tukang goyang alias penyanyi dangdut! Hahhaa!

 

Ah, dari tadi aku sepertinya hanya bercerita tentang sejarah kelam namaku ya? Hmm, baiklah, sekarang saatnya membuka kantong ajaib Doraemon, eh, maksudnya sisi keberuntungan dari namaku itu.

 

Aku juga sebenarnya tidak tahu, apakah ini bisa dikatakan sebuah keberuntungan atau tidak. Ceritanya, waktu aku sedang semangat-semangatnya mengirim tulisan ke media, aku lebih memilih bersembunyi di balik nama pena atau nama samaran. Anehnya, meski berkali-kali aku mengirim, tulisanku selalu diakhiri dengan penolakan. Hiks.

 

Akhirnya, karena sudah ngos-ngosan dan nyaris menyerah, aku pun mengirim tulisan lagi. Kali ini, aku sudah capek mencari nama sok keren, akhirnya dengan terpaksa kupakai nama asliku. Di depan kotak pos aku berkata:

 

“Ya Allah, kalau naskah ini ditolak juga, sudahlah, aku menyerah! Itu artinya, Engkau tidak menakdirkan aku menjadi penulis!”

 

Tulisan beramlop coklat itupun sampai di meja redaksi majalah remaja nasional, Annida. Tak cukup sebulan, tiba-tiba redaksinya memberikan sebuah jawaban atas penantianku selama ini. Ooooh, naskahku diterima dan dimuat di edisi bulan itu! Dan honornya, ooohh, aku bisa sepuasnya membeli buku setebal apapun yang kumau! Ternyata, selama ini, mereka menolak tulisanku hanya gara-gara nama penaku yang terlalu idealis itukah? Hahha, sepertinya bukan begituuuhhhh!

 

Keberuntungan lain, tentu saja saat kakiku benar-benar berpijak di markas besar Fir’aun ini. Rasa-rasanya, semua dunia beralih kepadaku. Setiap kali aku berkenalan dan menyebutkan namaku ke orang Mesir, mereka pasti tercengang sambil berkomentar seperti:

 

“Beneran namamu Mayyadah? Oh, demi Allah, namamu Mesir banget!”

“Bapak kamu orang Mesir ya? Apa beliau fansnya Mayyadah el-Hannawy ya?”

“Wow, nama kamu Mayyadah? Emang kamu lahir di Mesir ya?”

 

Dan beragam jenis komentar lebay, membuat hidungku kembang-kempis juga. Pernah suatu hari, saat aku mengikuti ujian lisan Ushul Fiqh, professor pengujiku terkesima mendengar namaku. Mungkin beliau takjub, namanya Mayyadah, tapi pemilik namanya kok hidungnya pesek ya? Hahha. Beliau lebih terkesima lagi saat kujawab (baca: kuhantam) pertanyaan-pertanyaannya dengan cas-cis-ces.

 

“Demi Allah, anakku! Nama itu pantas untukmu! Semoga engkau menjadi ahli ilmu yang cerdas dan terjaga akhlaknya. Nauzubillah deh kalo kamu jadi penyanyi kayak Mayyadah el-Hannawy yang seksi itu!”

 

Yah, begitulah teman-teman, sungguh sebuah nama yang penuh cerita tak biasa, bukan? Bahkan, saat pengurusan ijazah pun, urusan administrasinya pun lebih cepat karena namaku tak membuat pegawai pembuat Syahadah itu pusing dengan ejaannya. Dia tak perlu susah-payah mengeja lalu menuliskan namaku seperti nama non-Mesir yang “njelimet” itu.

 

Kalau dipikir-pikir, nama Mayyadah itu begitu biasa, begitu pendek ketika harus disandingkan dengan nama kelima saudaraku yang lain: Manhajiyah Ilmiah, Mazharul Haq, Ma’adul Yaqin, Mani’ah Imaniyah, dan Mazied Jambur Mubarak. Wuiihh, nama yang selalu membuatku iri karena semuanya pemberian Ayahku.

 

Sebenarnya, ada sebuah rahasia lagi tentang namaku ini. Tapi, sepertinya terlalu panjang untuk kuceritakan disini. Kalaupun ada yang penasaran, silakan kirim inbox, tanpa dibayar pun akan kubalas dengan senang hati. Hehe.

 

Oh My God! Hanya sebuah nama dan aku bisa menulis seanjang ini! Wow, semoga saja Shakespeare tidak bangkit dari kuburnya demi membaca ini :P

 

What’s in a name?

Selalu ada cerita di setiap nama siapapun.

Bagaimana dengan namamu?

 

 

 


NoteSep 27, '10 6:03 AM
for everyone

Blog EntrySep 24, '10 4:23 PM
for everyone

Ibu, izinkan kuhapus rindumu

dengarkanlah suaraku

aku katakan padamu

"ibu, putri pertamamu telah sarjana"

 

Ayah, izinkan kubalut penantianmu

dengarkanlah senandungku

aku dendangkan untukmu

"ayah, putri pertamamu telah sarjana"

 

Dulu, sewaktu kuminta izin kalian berdua

bahwa aku menikah muda

sebelum lulus kuliah

kalian berkata:

"menikah...bukanlah penghalang bagi studi dan prestasi"

 

Dan setelah kulewati waktu yang panjang ini

tetes keringat dan airmata ini

aku tlah buktikan kalimat itu

aku tak ingkari janjiku

karena aku anakmu yang berbakti

 

terima kasih

kalian selalu ada

saat yang lain tiada

 

terima kasih

kalian selalu berdoa

saat semangatku sisa sedepa

 

terima kasih

kalian selalu yakin

di saat aku tak yakin

 

terima kasih

(hiks, dipending nangis bentar yaaa)

 

Ibu Ayah

untuk saat ini

uang dan materi pengorbananmu belum bisa kugantikan

tapi, maukah kalian menunggu

hingga datang waktu

ketika kakiku telah berpijak penuh




Blog EntryAug 25, '10 5:26 AM
for everyone

Aku masih di sini, menikmati angin musim panas negeri Piramida. Rinduku pun masih sama, malah semakin hari semakin menjadi. Dan nyaris setiap saat kau selalu menyapa dengan tanya yang sama, meski hanya sebatas layar ponsel:

Kapan kamu pulang, Nak?

Aku tergugu, tenggelam dalam biru. Semua kenangan saat bersamamu berkelebat tiba-tiba. Kau ingat waktu itu, aku menggorengkan telur untukmu dan hasilnya setengah gosong setengah mentah. Aku lupa membalik telurnya, tapi kau hanya tertawa dan berkata:

"Dulu Ibumu juga begitu."

"Benarkah? Hmm…apakah Ayah selalu merindukan masakan Ibu?"

"Ya."

"Apakah Ayah juga akan merindukan masakanku jika aku sudah di Mesir nantinya?"  

Saat itu engkau menjawab seraya tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Engkau adalah putri Ayah satu-satunya, bagaimana mungkin Ayah akan lupa?"

Kutarik nafas, berharap semua bayangan itu sirna sekejap. Atau paling tidak, mataku tak kembali basah. Tuhan, aku ingin pulang, aku ingin rindu ini bermuara. Ingin kuakhiri segala kesepian Ayah. Tapi ah, mungkin sebulan lagi tesis ini selesai! Rasanya masih seabad lagi!

Kembali kugenapkan tenaga, kuhabiskan malam-malam panjang bersama laptop dan tumpukan pustaka. Aku bahkan mengucilkan gempita dunia demi membuat tesis ini menembus batas halaman terakhir. Aku harus pulang bulan depan!

Dan sebulan itu akhirnya sampai, ketika kau kembali menyapa:

Kapan kamu pulang, Nak?

Belum lagi sempat kujawab, sms keduamu mendahului jemariku.

Ayah sudah mendapatkan pengganti ibumu…

Kugigit bibirku hingga perih. Airmataku jatuh luruh. Bayanganku tenggelam pada sosok seorang pria berusia setengah abad, didampingi seorang wanita muda, lebih muda dari usiaku. Gumpalan rinduku mengangkasa, lalu hilang entah kemana.

                                                            * * *

Cerita ini diikutkan dalam lomba FF disini



Blog EntryAug 24, '10 7:09 AM
for everyone

Mata sayu Salim menatap kakaknya, ada sedikit pendar harapan dalam hatinya.

“Benarkah Khalifah Umar akan datang, Kak?”

“Ya, tiap malam Khalifah Umar berkeliling mencari orang-orang kelaparan seperti kita. Kita berdoa saja, biar malam ini rumah kita dapat giliran.” Amar menelan ludah pahit, menekan rasa ibanya melihat Salim yang tergolek tak berdaya. Ini adalah Ramadan pertama mereka tanpa Abah dan Emak. Gempa telah memporak-porandakan semuanya, termasuk kebahagiaan masa kecil mereka.

“Kak, aku lapar sekali. Apa aku masih harus puasa?” Pertanyaan itu semakin membuat luka di hati Amar menganga. Setiap hari, adiknya itu bahkan ikut berpuasa dua kali sehari seperti dirinya. Mereka hanya berbuka air putih di waktu Magrib, lalu setelahnya berpuasa lagi.

“Malam ini Khalifah Umar pasti datang! Kita boleh meminta makanan sebanyak-banyaknya!” Amar keluar dari bilik  kardus itu, tak kuat lagi melihat tubuh ringkih adiknya. Di luar bilik, tangis Amar pecah. Anak berumur sepuluh tahun itu memeluk lututnya yang gemetaran karena lapar, pikirannya tak menentu, dirinya benar-benar tak tahu harus mendapatkan makanan darimana.

Seorang pemuda yang baru saja pulang dari mesjid mengira anak itu seorang pengemis. Selembar uang lima ribuan ditaruhnya di depan kaki anak itu. Amar tertegun, matanya yang mengabur melihat sosok itu sebagai Khalifah Umar. Amar berterima kasih lalu berlari kencang menuju gerobak penjual nasi kucing. Beberapa menit kemudian dia sudah berada di biliknya dengan mata berbinar, menenteng dua bungkus nasi.

“Dik, Khalifah Umar benar-benar datang!” Tak ada reaksi. Amar panik, berusaha membangunkan adiknya berulang kali, namun tubuh kaku Salim tetap diam tak bergeming.

* * *

Cerita ini diikutkan dalam lomba Menulis Flash Fiction yang bisa dilihat di http://intan0812.multiply.com/journal/item/185/Hadiah_Lebaran_dari_berkah_membuat_FF?replies_read=532


Pages:123456